banner 728x250
OPINI  

Angka Perceraian Sangat Tinggi, Mengapa?

banner 120x600
banner 468x60

OPINI—Kasus perceraian di Indonesia terbilang tinggi. Setidaknya ada 516 ribu pasangan yang bercerai setiap tahun. Di sisi lain, angka pernikahan justru mengalami penurunan. Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Prof Dr Kamaruddin Amin menjelaskan, jumlah perceraian terbilang fantastis. “Ada kenaikan angka perceraian di Indonesia, menjadi 516 ribu setiap tahun. Sementara, angka pernikahan semakin menurun, dari 2 juta menjadi 1,8 juta peristiwa nikah setiap tahun,” kata dia dalam agenda Rakornas Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) 2023, di Jakarta, Kamis (21/9/2023).
Kamaruddin mengatakan, tingginya angka perceraian membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk dari lembaga filantropi, seperti Badan Amil Zakat Nasional (Baznas). “Kalau ada 516 ribu pasang yang bercerai setiap tahun, itu artinya kita melahirkan jutaan anak-anak yatim setiap tahun,” tuturnya. Menurut dia, perceraian tersebut juga melahirkan 516 ribu duda dan janda setiap tahun di Indonesia. Dia mengungkapkan, fakta tersebut akan menimbulkan masalah sistemis sehingga perlu ada bimbingan atau konsultasi keluarga dari para penghulu di seluruh wilayah Indonesia dan juga penyuluh-penyuluh agama.
Kamaruddin juga menuturkan, pernikahan dini, stunting, dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sangat berpotensi terjadi jika calon pengantin tidak memiliki wawasan tentang keluarga. Karena itu, ia menilai perlunya sinergi dan kolaborasi antara Baznas dan LAZ untuk mengatasi sejumlah persoalan makro keluarga Indonesia yang berkorelasi dengan ketahanan nasional.
Yang mengejutkan lagi, ada kasus perceraian bukan karena persoalan ekonomi atau Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT, melainkan karena si suami seorang penyuka sesama jenis atau homo seksual. Hal ini diungkapkan Kepala Kanwil Kementerian Agama atau Kakanwil Kemenag Aceh, Drs Azhari saat bersilaturahmi ke Kantor Serambi Indonesia, Jumat (25/8/2023) siang.
Data tahun 2021 hingga 2022, angka pernikahan sekitar 20.000 lebih, namun angka perceraian sebanyak 6.000 kasus. Setelah ditelesuri, lanjutnya, banyak persoalan yang melatarbelakangi terjadi perceraian, seperti himpitan ekonomi, judi online (chip domino), narkoba, hingga KDRT. “Sedih memang. Inilah perlu kampanye kita (agar kasus ini bisa diantisipasi). Sampaikan terus menerus meskipun tidak didengar. Karena bahaya narkoba juga akan membahayakan keluarga sampai terjadi perceraian,” ucap Azhari. Persoalan kebiasaan umat Nabi Luth. Ternyata homo dan lesbi mempengaruhi angka perceraian. LGBT,” tambahnya.
Saat ini pernikahan yang suci mulai dianggap tidak lagi sakral (desakralisasi pernikahan), hal ini justru membahayakan bangunan rumah tangga sendiri. Cara pandang seperti itu hal yang lazim, ketika sistem kapitalisme sekuler yang diterapkan di tengah kehidupan. Sistem ini telah menjadikan tolok ukur kebahagiaan terletak pada materi. Pernikahan dinilai sebagai bentuk kapital, sehingga ketika ada guncangan ekonomi maka lebih memilih jalan pintas untuk menyelesaikannya, yakni dengan perceraian.
Tingginya perceraian menunjukkan rapuhnya bangunan keluarga. Ada berbagai sebab yang menjadi pemicu. Hal ini juga menjadi tanda lemahnya visi keluarga saat ini yang hanya berorientasi kepada duniawi. Juga lemahnya negara sehingga tak mampu mewujudkan perlindungan terhadap anak. Tidak bisa dipungkiri bahwa kapitalisme juga ikut andil dalam permasalahan ini.. Sistem kapitalis sekuler menempatkan urusan keluarga pada ranah individu saja, negara lepas tangan begitu saja ketika banyak perceraian terjadi, meski jumlahnya makin ambyar. Apalagi sekularisme telah akut mewarnai di tengah masyarakat, sehingga aturan yang diterapkan adalah aturan manusia yang banyak sekali kelemahannya. Manusia bebas mengatur dirinya sendiri, tanpa mau dibatasi oleh aturan norma maupun agama. Tolok ukur kesenangan hanya pada kepuasan individu, sehingga ketika kepuasan yang dicarinya tidak ditemukan pada pasangannya, maka dengan mudah memutuskan untuk bercerai.
Maraknya perceraian dan dominasi gugat cerai istri, tak semata karena kelalaian pasangan suami istri, tekanan ekonomi, tidak pahamnya hak dan kewajiban atau tidak paham hukum agama. Semua terjadi disebabkan tidak berfungsinya peran negara dalam membentuk ketahanan keluarga.
Berbeda dengan sistem Islam, relasi hubungan sakral antara suami dan istri semata-mata adalah ibadah. Visi misi keluarga akan sama yakni mendapatkan rida-Nya. Seperti firman Allah Swt., “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum: 21).
‌Sejatinya ketenangan akan terasa jika satu visi dan satu misi. Selain itu negara memiliki andil dalam mengupayakan agar ketahanan keluarga tidak rapuh. Islam dengan seperangkat aturan komplitnya akan menerapkan aturan Islam secara kaffah. Akan memastikan pelaksanaan hukum syari’at Islam diterapkan dalam kehidupan antara suami istri. Di mana di dalamnya terdapat hak-hak dan kewajiban suami istri yang harus ditunaikan.
Dalam Islam, negara akan tetap memastikan anggota keluarga tersebut mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik, sesuai ajaran Islam. Negara wajib bertanggung jawab penuh atas rakyatnya. Termasuk memberi lapangan pekerjaan, memberi tempat tinggal yang layak dan aman dengan harga terjangkau, pangan yang cukup dan murah, pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Negara juga membekali masyarakat tentang sistem pergaulan dalam Islam agar terjaga kehormatan baik laki-laki dan perempuan hingga terjadi aqad nikah, tujuannya semata menjalankan ibadah. Sekaligus pasangan nikah saling tahu hak dan kewajiban suami istri dalam bangunan keluarga, agar tidak mudah rapuh oleh badai rumah tangga. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita lepaskan cengkraman Kapitalisme menuju Sistem Islam agar rahmatan lil’aalamin yang dijanjikan Allah dapat kita rasakan.
Allahu a’lam bishshowab.

Penulis:Irmawati, S.Pd

banner 325x300

Tulisan ini diluar tanggung jawab redaksi 

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *