Mei 28, 2024

Darurat Judi online Dikalangan Pelajar, Apa Solusinya?

0

 

Opini—Saat ini, dengan hanya bermodalkan telepon pintar (smartphone), masyarakat bisa mudah mengakses berbagai aplikasi. Ini pula yang disalahgunakan oleh sebagian masyarakat, termasuk anak-anak. Lewat aplikasi, mereka mudah mengunduh aplikasi judi online. Salah satu yang tengah merebak adalah judi slot.

Berdasarkan perhitungan Persatuan Guru Seluruh Indonesia (PGSI) Kab. Demak, diperkirakan sebanyak 12.000 siswa bermain game online yang disponsori oleh judi online. Sementara itu, sekitar 2.000 siswa langsung mengakses judi online tersebut. (Kompas, 23-10-2023).

Data ini hanya fenomena gunung es, data yang sebenarnya tentu lebih besar lagi. Ini pun baru data dari satu kabupaten. Jika kita berselancar dengan kata kunci “judi online pelajar”, alhasil kita akan mengurut dada akibat sedemikian maraknya kasus judi online yang menimpa generasi muda kita di seantero negeri ini.

Judi online menjadi berkembang pesat dikarenakan cara memainkannya yang sangat sederhana dengan keuntungan yang besar secara cepat. Keuntungan adalah salah satu alasan utama para pelajar tertarik sehingga terlibat langsung dalam permainan judi online tanpa perlu melakukan usaha berat dan melelahkan. Keuntungan yang ditawarkan dalam permainan judi online memang sangat menarik dan beraneka ragam. Ini karena pada perhitungannya terdapat kelipatan ganda yang sangat besar dari jumlah taruhan yang dipasang jika bisa menang. Jika kalah pun, si pelaku akan mencoba bermain lagi karena diiming-imingi uang banyak jika menang.

Apalagi sifat hedon sudah mewarnai karakter para anak-anak hingga remaja yang masih berstatus pelajar. Kehidupan ekonomi yang terus mengimpit akibat penerapan sistem kapitalisme juga menjadi media yang menyuburkan mereka untuk mencari keuntungan berlipat secara cepat. Lingkungan juga bisa menjadi pemicu para pelajar terlibat judi online. Mereka mengenal judi online dari pengaruh lingkungan sekitar, hasil belajar dari teman ke teman.

Lingkungan bisa menjadi pemicu para pelajar terlibat judi online. Awal mereka mengenal judi online adalah pengaruh lingkungan sekitar ataupun hasil belajar dari teman ke teman. Ajakan, rayuan, penawaran, bahkan tekanan agar bisa berpartisipasi dalam permainan judi online tersebut, berasal dari teman-teman sekitarnya, termasuk dari berbagai promosi di gadget mereka sendiri.

Belum lagi kondisi keluarga yang tidak harmonis. Ayah dan ibu yang sibuk bekerja demi bisa bertahan di zaman kapitalisme ini, melalaikan perhatian kepada anak-anaknya. Kekecewaan dan ketidaknyamanan di rumah juga bisa menjadi pelampiasan para pelajar untuk terjun ke dunia judi online. Parahnya, mereka tidak memperhatikan halal-haram dari kegiatan yang membius dan menggurita itu, padahal setiap aktivitas yang melanggar aturan Allah pastilah haram.

Selain merupakan tindak kriminal, dampak buruknya pun nyata. Akibat ketagihan judi online, tidak jarang pelajar yang berani menyalahgunakan biaya sekolah atau SPP-nya untuk bisa mengadu untung lewat mesin slot online. Bahkan, ada pelajar yang tega menjual ponsel orang tuanya untuk dipakai bermain judi slot dan yang sejenisnya. Kalau sudah senekat ini untuk perkara yang haram, apakah bisa menjadi generasi harapan bangsa?

Islam Solusinya

Haramnya judi telah jelas dalam banyak dalil. Keharamannya bukan sekadar karena mendatangkan dampak buruk bagi para pelakunya. Allah Swt. bahkan menyejajarkan judi dan miras dengan penyembahan berhala, lalu menggolongkannya sebagai perbuatan setan.

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS Al-Maidah: 90).

Dalam kehidupan sekuler saat ini, bisa jadi banyak para pelajar yang tidak paham keharaman judi. Mereka yang sudah tahu pun cenderung abai karena tidak ada penjagaan serius bagi generasi dari segala perbuatan haram. Pendidikan di sekolah yang jauh dari penanaman akidah dan syariat juga malah memudahkan pelajar tergelincir pada perbuatan yang Allah benci. Kebijakan media yang sangat tidak edukatif bagi pelajar pun makin mudah menyeret pelajar dalam arus kerusakan akhlak.

Oleh karenanya, mengatasi maraknya judi online di kalangan pelajar tidak cukup dengan nasihat dan ceramah kepada mereka. Perlu ada solusi mendasar dan komprehensif.

Pertama, harus ada peran orang tua dalam mendidik putra-putrinya agar menjadi anak saleh-salihah, juga agar tidak mudah terjerumus ke dalam aktivitas buruk, apalagi melanggar hukum. Keharmonisan dan kesejahteraan dalam keluarga menjadi kunci terbentuknya putra-putri yang taat pada Allah.

Kedua, penerapan sistem pendidikan Islam yang berbasis akidah Islam akan membentuk pola pikir dan pola sikap pelajar sesuai arahan Islam. Pelajar akan memiliki standar dalam memilih aktivitasnya, bukan sekadar untuk kesenangan materi, tetapi akan menyibukkan diri dengan segala hal yang bisa mendatangkan rida Allah Taala.

Ketiga, peran masyarakat yang mendukung terwujudnya pelajar yang cinta ilmu dan dekat dengan kebaikan. Masyarakat tidak boleh abai terhadap suasana kemaksiatan di sekitarnya, apalagi di lingkungan generasi muda.

Keempat, peran negara dalam mewujudkan sistem yang mendukung terbentuknya kesalehan generasi. Mudah bagi negara—sebagai institusi yang memiliki kekuasaan—untuk menutup akses judi online bagi segenap masyarakat, termasuk pelajar. Begitu juga konten-konten media yang nonedukatif lainnya. Negara berperan dalam menjamin kesejahteraan kepada rakyat sehingga para orang tua tidak abai terhadap tanggung jawabnya kepada anak karena alasan mencari penghidupan. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Oleh: Herawati, S.Pd., M.Pd.

Tulisan ini diluar tanggung jawab redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *