Mei 28, 2024

Refleksi Hari Ibu:  Benarkah Perempuan Berdaya, Indonesia Maju“?

0

Opini—Pada Peringatan Hari Ibu (PHI)  tahun ini masih mengangkat tema “Perempuan Berdaya Indonesia Maju”. Setidaknya sudah 7 tahun sejak 2017, peringatan hari ibu selalu bertemakan demikian. Ini karena perempuan kini dianggap sebagai backbone atau tulang punggung perekonomian keluarga, juga negara.

Prof. Dr. Hamka dalam bukunya berjudul Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan menuliskan, “Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk.” (hlm. 15).

Perspektif Hamka ini menunjukkan bahwa perempuan—terlebih dalam kapasitasnya sebagai ibu—berperan vital dalam pembangunan negara. Ini karena arah generasi tergantung didikan ibunya, mendidiknya menuju kebaikan atau malah keburukan.

Sayangnya, kaum feminis dan para pengusung ide moderasi beragama membelokkan peran vital dan mulia ini. Setiap tahun melalui perayaan Hari Ibu 22 Desember, mereka senantiasa menyeru kaum perempuan untuk lebih berdaya dalam sektor ekonomi. Mereka menilai keterlibatan perempuan sangat potensial dan strategis dalam mengembangkan industri maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini terlihat dari tiga poin berikut.

Pertama, yaitu rendahnya akses perempuan terhadap ekonomi, perempuan terdiskriminasi, kemiskinan keluarga dan lain-lain, fakta-fakta tersebut yang dijadikan sumber berpikir untuk kemudian melakukan tindakan penyelesaian. Sebagai contoh saat pandemi Covid-19 terjadi gelombang PHK terkhusus pada laki-laki sehingga mereka jadi pengangguran. Yang dijadikan sebagai penyelamat ekonomi keluarga itu adalah perempuan. Mereka membuka warung , menjadi buruh cuci,dan lain-lain. Dari fakta ini keluar kesimpulan bahwa perempuan itu penyelamat ekonomi keluarga. Oleh karena itu, segala hal yang menghambat keluarnya perempuan untuk bekerja harus dihentikan. Hambatan gender, hambatan nilai agama, harus dihentikan agar perempuan punya akses yang luas ke permodalan sehingga mendapatkan mentor. Ini adalah berpikir pragmatis, tidak melihat akar persoalan sebenarnya yang menyebabkan PHK, kemiskinan, dan masalah ekonomi lainnya.

Kedua, perempuan difokuskan kepada aktivitas publik, tidak menganggap penting fungsi domestik. Fungsi domestiknya itu tidak dianggap penting, justru malah dipersoalkan. Fungsi melayani suami, mengurusi keperluan anak, menata rumah tangga, dan lain-lain itu dianggap sebagai penyia-nyiaan waktu dan tenaga perempuan karena pekerjaan itu tidak dibayar. Saat perempuan berpaling pada fungsi publik justru di situlah banyak masalah terjadi, seperti masalah hubungan suami istri, masalah anak dan orang tua, dan masalah kualitas generasi. Tidak sedikit latar belakang anak-anak yang melakukan kriminalitas itu karena tidak utuhnya kondisi keluarga. Ibunya kerja , ayahnya kerja, sehingga mereka tidak fokus pada pendidikan anak-anak mereka.

Ketiga, perempuan dipandang sebagai aset ekonomi. Hampir setengah rakyat Indonesia adalah perempuan. Kalau ditinjau dari segi ekonomi tentu ini akan menjadi aset bagi bangsa. Jadi, perempuan ditempatkan sebagai faktor produksi. Sadar atau tidak, sesungguhnya ini adalah bentuk eksploitasi terhadap perempuan dalam bidang ekonomi. Dari kacamata kapitalisme, bagian terpenting dari pemanfaatan alat adalah ketika ia mampu menghasilkan materi atau tidak. Alhasil, lingkungan kerja yang mengondisikan kaum perempuan terkonsentrasi pada sektor publik membuat tidak sedikit dari mereka mengabaikan sektor domestik.

Kecacatan sudut pandang yang keliru ini melahirkan banyak problem, misalnya tingginya kenakalan remaja, yang ternyata tumbuh seiring dengan hilangnya pengasuhan dari orang tua mereka. Lalainya orang tua dalam pengasuhan lantaran sibuk bekerja menjadi faktor terbesar tingginya kenakalan remaja. Lemahnya sistem pendidikan sekuler dalam menciptakan individu kuat dan masifnya budaya liberal dari media, berpadu dengan benteng keluarga yang rapuh hanya akan menghasilkan generasi sampah.

Peran Ibu dalam Syariat

Pemberdayaan ibu dalam Islam bukanlah dengan menjadikan mereka produktif menghasilkan materi, melainkan menjadikan para ibu optimal dalam seluruh perannya yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunah.

Inilah sudut pandang yang lahir dari akidah Islam bahwa tolak ukur perbuatan seseorang bukan berdasarkan keuntungan materi, tetapi berdasarkan halal dan haram. Setidaknya ada tiga peran ibu yang jika amanah ini maksimal dijalankan, niscaya persoalan akan terselesaikan.

Peran ummun wa robbatul bait, yaitu seorang ibu dan manager rumah tangga. Perempuan telah Allah Taala titipkan rahim untuk mengandung dan melahirkan seorang anak, maka pengasuhan kepada anak-anaknya adalah perkara yang wajib.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS At-Tahriim: 6)

Begitu pun fungsinya sebagai robbatul bait, yaitu mengatur rumah tangga. Ibu harus menciptakan rumah agar nyaman dan kondusif bagi penghuninya untuk beribadah dengan optimal. Di bahu ibulah seluruh anggota keluarga mendapatkan aliran kasih sayang yang melimpah.

Kedua, peran ibu sebagai madrosatul ula. Hafiz Ibrahim mengungkapkan “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Artinya, ibu adalah madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Ketiga, peran ibu sebagai ummu ajyal atau ibu generasi. Seorang ibu pun harus juga peduli dengan anak-anak kaum muslim lainnya. Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa bangun di pagi hari tidak memikirkan urusan kaum muslimin maka dia bukan golonganku.” (HR Ath-Thabrani)

Tidak Pernah Tuntas

Jika cara pandang terhadap persoalan bangsa seperti diatas serta tidak mengambil Islam sebagai solusi maka persoalan tidak pernah akan tuntas. Islam itu adil, menempatkan posisi perempuan, posisi laki-laki, dan cara mengatur interaksi keduanya dalam sebuah kehidupan keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu, solusi terhadap persoalan bangsa yang sedang dihadapi sekarang tidak bisa selesai dengan pemberdayaan ekonomi dan juga pemberdayaan politik perempuan. Yang memerlukan solusi bukan hanya perempuan, tetapi seluruh komponen bangsa termasuk laki-laki.

Laki-laki harus dikembalikan pada posisi utama mereka dan juga harus diurus keperluannya dengan memberi mereka skill atau keterampilan untuk bekerja, menyediakan lapangan kerja, memberikan modal atau bantuan agar laki-laki ini bisa bekerja dan menafkahi keluarga.

Jika laki-laki dalam hal ini suami sudah berfungsi dengan benar sebagai qowam,sebagai pelindung kehormatan istri dan keluarga, pemberi nafkah, pendidik agama dan moral keluarga pasti perempuan akan taat pada suami dan fokus menjalankan fungsi utamanya. Ketika seluruh aturan Islam itu diterapkan akan tercipta situasi ekonomi yang menyejahterakan, kehidupan berbangsa tentram dan aman dan tidak akan menimbulkan banyak persoalan baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak. Wallahu a’lam bish shawab.

 

Penulis: HERAWATI, S.Pd., M.Pd.

(Pemerhati masalah sosial, guru UPTD SMPN 7 Sinjai)

 

Tulisan ini diluar tanggungjawab redaksi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *